Rabu, 08 Januari 2020

R. Guntur Mahardika : Philosophy of Linguistics

Philosophy of linguistics is the philosophy of science as applied to linguistics. This differentiates it sharply from the philosophy of language, traditionally concerned with matters of meaning and reference.

As with the philosophy of other special sciences, there are general topics relating to matters like methodology and explanation (e.g., the status of statistical explanations in psychology and sociology, or the physics-chemistry relation in philosophy of chemistry), and more specific philosophical issues that come up in the special science at issue (simultaneity for philosophy of physics; individuation of species and ecosystems for the philosophy of biology). General topics of the first type in the philosophy of linguistics include:

  • What the subject matter is,
  • What the theoretical goals are,
  • What form theories should take, and
  • What counts as data.

Specific topics include issues in language learnability, language change, the competence-performance distinction, and the expressive power of linguistic theories.

There are also topics that fall on the borderline between philosophy of language and philosophy of linguistics: of “linguistic relativity” (see the supplement on the linguistic relativity hypothesis in the Summer 2015 archived version of the entry onrelativism), language vs. idiolect,speech acts (including the distinction between locutionary, illocutionary, and perlocutionary acts), the language of thought, implicature, and the semantics of mental states (see the entries on analysissemantic compositionalitymental representationpragmatics, anddefaults in semantics and pragmatics). In these cases it is often the kind of answer given and not the inherent nature of the topic itself that determines the classification. Topics that we consider to be more in the philosophy of language than the philosophy of linguistics include intensional contexts, direct reference, and empty names (see the entries onpropositional attitude reports,intensional logicrigid designators,reference, and descriptions).

This entry does not aim to provide a general introduction to linguistics for philosophers; readers seeking that should consult a suitable textbook such as Akmajian et al. (2010) or Napoli (1996). For a general history of Western linguistic thought, including recent theoretical linguistics, see Seuren (1998). Newmeyer (1986) is useful additional reading for post-1950 American linguistics. Tomalin (2006) traces the philosophical, scientific, and linguistic antecedents of Chomsky's magnum opus (1955/1956; published 1975), and Scholz and Pullum (2007) provide a critical review.

Jumat, 15 Februari 2019

HAPPY BIRTHDAY TO R GUSTIO VALENTINO { TK, SDI ARRISALAH RAMBIPUJI JE...

If your birthday is on February 14, you’re probably used to hearing “Aw! A Valentine’s Day baby!” every time you tell someone when your birthday is.
According to our birthday horoscope, individuals born on Valentine’s Day are known for their dry humor and wit.
We’re extroverts who love to be social, but we also value spending time alone.
We’re known for being independent and brutally honest. We are intelligent people with killer communication skills.
High five, February 14-ers!
However, all Valentine’s Day babies know a February 14 birthday isn’t all it’s cracked up to be.
We roll our eyes at the people born in late December who complain people forget their birthdays because they're “too close to Christmas.”
Cry us a river.
Valentine’s Day babies like us know we have the worst holiday birthday of the year.

Kamis, 13 Desember 2018

PELEPASAN WISUDAWAN KE 129 di UNIVERSITAS UDAYANA BALI

Earning a master's degree or doctorate in English can improve your writing skills, sharpen your analytical abilities and broaden your literary knowledge. These are the top schools for a graduate degree in English. Each school's score reflects its average rating on a scale from 1 (marginal) to 5 (outstanding), based on a survey of academics at peer institutions.

Selasa, 11 Desember 2018

SEMINAR MENJELANG PELEPASAN WISUDAWAN DI UNIVERSITAS UDAYANA BALI

Rather than attempting to survey the rich array of topics within the philosophy of linguistics, this article focuses on two questions: “What kind of thing is linguistics about?” and “What is the proper evidence-base for linguistics?” After describing various exclusionary answers—physicalism in linguistics as per Bloomfield, Quine and Devitt; mentalism in linguistics as per Chomsky and Jackendoff; Platonism in linguistics as per Katz, Postal and Soames—it argues for pluralism on both fronts: the objects of study in linguistics are metaphysical hybrids, with physical, mental, abstract, and social facets; and, in terms of linguistic methodology, evidence from every domain should in principle be welcomed.

Jumat, 17 November 2017

SMPN 3 Balung Dalam Perspektif Pendidikan



Setiap orang memiliki filsafat walaupun ia mungkin tidak sadar akan hal tersebut. Kita semua mempunyai ide-ide tentang benda-benda, tentang sejarah, arti kehidupan, mati, Tuhan, benar atau salah, keindahan atau kejelekan dan sebagainya. 1) Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis. Definisi tersebut menunjukkan arti sebagai informal. 2) Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan yang sikap yang sangat kita junjung tinggi. Ini adalah arti yang formal. 3) Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan. 4) Filsafat adalah sebagai analisa logis dari bahasa serta penjelasan tentang arti kata dan konsep. 5) Filsafat adalah sekumpulan problema-problema yang langsung yang mendapat perhatian dari manusia dan yang dicarikan jawabannya oleh 
ahli-ahli filsafat.
Dari beberapa definisi tadi bahwasanya semua jawaban yang ada difilsafat tadi hanyalah buah pemikiran dari ahli filsafat saja secara rasio. Banyak orang termenung pada suatu waktu. Kadang-kadang karena ada kejadian yang membingungkan dan kadang-kadang hanya karena ingin tahu, dan berfikir sungguh-sungguh tentang soal-soal yang pokok. Apakah kehidupan itu, dan mengapa aku berada disini? Mengapa ada sesuatu? Apakah kedudukan kehidupan dalam alam yang besar ini ? Apakah alam itu bersahabat atau bermusuhan ? apakah yang terjadi itu telah terjadi secara kebetulan ? atau karena mekanisme, atau karena ada rencana, ataukah ada maksud dan fikiran didalam benda .

Semua soal tadi adalah falsafi, usaha untuk mendapatkan jawaban atau pemecahan terhadapnya telah menimbulkan teori-teori dan sistem pemikiran seperti idealisme, realisme, pragmatisme. Oleh karena itu filsafat dimulai oleh rasa heran, bertanya dan memikir tentang asumsi-asumsi kita yang fundamental (mendasar), maka kita perlukan untuk meneliti bagaimana filsafat itu menjawabnya.

Secara harfiah, kata filsafat berasal dari kata Philo yang berarti cinta, dan kata Sophos yang berarti ilmu atau hikmah. Dengan demikian, filsafat berarti cinta cinta terhadap ilmu atau hikmah. Terhadap pengertian seperti ini al-Syaibani mengatakan bahwa filsafat bukanlah hikmah itu sendiri, melainkan cinta terhadap hikmah dan berusaha mendapatkannya, memusatkan perhatian padanya dan menciptakan sikap positif terhadapnya. Selanjutnya ia menambahkan bahwa filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat, dan berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia. Selain itu terdapat pula teori lain yang mengatakan bahwa filsafat berasal dari kata Arab falsafah, yang berasal dari bahasa Yunani, Philosophia: philos berarti cinta, suka (loving), dan sophia yang berarti pengetahuan, hikmah (wisdom). Jadi, Philosophia berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran atau lazimnya disebut Pholosopher yang dalam bahasa Arab disebut failasuf.

Sementara itu, A. Hanafi, M.A. mengatakan bahwa pengertian filsafat telah mengalami perubahan-perubahan sepanjang masanya. Pitagoras (481-411 SM), yang dikenal sebagai orang yang pertama yang menggunakan perkataan tersebut. Dari beberapa kutipan di atas dapat diketahui bahwa pengertian fisafat dar segi kebahsan atau semantik adalah cinta terhadap pengetahuan atau kebijaksanaan. Dengan demikian filsafat adalah suatu kegiatan atau aktivitas yang menempatkan pengetahuan atau kebikasanaan sebagai sasaran utamanya. Filsafat juga memilki pengertian dari segi istilah atau kesepakatan yang lazim digunakan oleh para ahli, atau pengertian dari segi praktis.

Selanjutnya bagaimanakah pandangan para ahli mengenai pendidikan dalam arti yang lazim digunakan dalam praktek pendidikan. Dalam hubungan ini dijumpai berbagai rumusan yang berbeda-beda. Ahmad D. Marimba, misalnya mengatakan bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si – terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.

Berdasarkan rumusannya ini, Marimba menyebutkan ada lima unsur utama dalam pendidikan, yaitu: (1) Usaha (kegiatan) yang bersifat bimbingan, pimpinan atau pertolongan yang dilakukan secara sadar; (2) Ada pendidik, pembimbing atau penolong; (3) Ada yang di didik atau si terdidik; dan (4) Adanya dasar dan tujuan dalam bimbingan tersebut, dan. 5) Dalam usaha tentu ada alat-alat yang dipergunakan.

Berbagai pengertian (definisi) tentang Filsafat Pendidikan yang telah dikemukakan oleh para ahli, Al-Syaibany mengartikan bahwa filsafat pendidikan ialah aktifitas pikiran yang teratur yang menjadikan filsafat tersebut sebagai jalan untuk mengatur, menyelaraskan dan memadukan proses pendidikan. Artinya, bahwa filsafat pendidikan dapat menjelaskan nilai-nilai dan maklumat-maklumat yang diupayakan untuk mencapainya, maka filsafat pendidikan dan pengalaman kemanusian merupakan faktor yang integral atau satu kesatuan. Sementara itu, filsafat juga didefinisikan sebagai pelaksana pandangan falsafah dan kaidah falsafah dalam bidang pendidikan, falsafah tersebut menggambarkan satu aspek dari aspek-aspek pelaksana falsafah umum dan menitik beratkan kepada pelaksanaan prinsip-prinsip dan kepercayaan yang menjadi dasar dari filsafat umum dalam upaya memecahkan persoalan-persoalan pendidikan secara praktis.

Barnadib mempunyai versi pengertian atas filsafat pendidikan, yakni ilmu yang pada hakikatnya merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam bidang pendidikan. Karenanya, dengan bersifat filosofis, bermakna bahwa filsafat pendidikan merupakan aplikasi sesuatu analisa filosofis terhadap bidang pendidikan.

Sebagai suatu agama, Islam memiliki ajaran yang diakui lebih sempurna dan kompherhensif dibandingkan dengan agama-agama lainnya yang pernah diturunkan Tuhan sebelumnya. Sebagai agama yang paling sempurna ia dipersiapkan untuk menjadi pedoman hidup sepanjang zaman atau hingga hari akhir. Islam tidak hanya mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di akhirat, ibadah dan penyerahan diri kepada Allah saja, melainkan juga mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia termasuk di dalamnya mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk mengatur kehidupan dunia dan akhirat tersebut adalah al Qur’an dan al Sunnah.

Sebagai sumber ajaran, al Qur’an sebagaimana telah dibuktikan oleh para peneliti ternyata menaruh perhatian yang besar terhadap masalah pendidikan dan pengajaran. Demikian pula dengan al Hadist, sebagai sumber ajaran Islam, di akui memberikan perhatian yang amat besar terhadap masalah pendidikan. Nabi Muhammad SAW, telah mencanangkan program pendidikan seumur hidup (long life education ).

Dari uraian diatas, terlihat bahwa Islam sebagai agama yang ajaran-ajarannya bersumber pada al- Qur’an dan al Hadist sejak awal telah menancapkan revolusi di bidang pendidikan dan pengajaran. Langkah yang ditempuh al Qur’an ini ternyata amat strategis dalam upaya mengangkat martabat kehidupan manusia. Kini di akui dengan jelas bahwa pendidikan merupakan jembatan yang menyeberangkan orang dari keterbelakangan menuju kemajuan, dan dari kehinaan menuju kemuliaan, serta dari ketertindasan menjadi merdeka, dan seterusnya.

Dasar pelaksanaan Pendidikan Islam terutama adalah al Qur’an dan al Hadist Firman Allah : “ Dan demikian kami wahyukan kepadamu wahyu (al Qur’an) dengan perintah kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan al Qur’an itu cahaya yang kami kehendaki diantara hamba-hamba kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benarbenar memberi petunjuk kepada jalan yang benar ( QS. Asy-Syura : 52 )” Dan Hadis dari Nabi SAW : “ Sesungguhnya orang mu’min yang paling dicintai oleh Allah ialah orang yang senantiasa tegak taat kepada-Nya dan memberikan nasihat kepada hamba-Nya, sempurna akal pikirannya, serta mengamalkan ajaran-Nya selama hayatnya, maka beruntung dan memperoleh kemenangan ia” (al Ghazali, Ihya Ulumuddin hal. 90)”

Dari ayat dan hadis di atas tadi dapat diambil kesimpulan :

1.                  Bahwa al Qur’an diturunkan kepada umat manusia untuk memberi petunjuk kearah jalan hidup yang lurus dalam arti memberi bimbingan dan petunjuk kearah jalan yang diridloi Allah SWT.

2.                  Menurut Hadist Nabi, bahwa diantara sifat orang mukmin ialah saling menasihati untuk mengamalkan ajaran Allah, yang dapat diformulasikan sebagai usaha atau dalam bentuk pendidikan Islam.

3.                  Al Qur’an dan Hadist tersebut menerangkan bahwa nabi adalah benar-benar pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus, sehingga beliau memerintahkan kepada umatnya agar saling memberi petunjuk, memberikan bimbingan, penyuluhan, dan pendidikan Islam. Bagi umat Islam maka dasar agama Islam merupakan fondasi utama keharusan berlangsungnya pendidikan. Karena ajaran Islam bersifat universal yang kandungannya sudah tercakup seluruh aspek kehidupan ini.

Pendidikan dalam arti umum mencakup segala usaha dan perbuatan dari generasi tua untuk mengalihkan pengalamannya, pengetahuannya, kecakapannya, serta keterampilannya kepada generasi muda untuk memungkinkannya melakukan fungsi hidupnya dalam pergaulan bersama, dengan sebaik-baiknya. Corak pendidikan itu erat hubungannya dengan corak penghidupan, karenanya jika corak penghidupan itu berubah, berubah pulalah corak pendidikannya, agar si anak siap untuk memasuki lapangan penghidupan itu. Pendidikan itu memang suatu usaha yang sangat sulit dan rumit, dan memakan waktu yang cukup banyak dan lama, terutama sekali dimasa modern dewasa ini. Pendidikan menghendaki berbagai macam teori dan pemikiran dari para ahli pendidik dan juga ahli dari filsafat, guna melancarkan jalan dan memudahkan cara-cara bagi para guru dan pendidik dalam menyampaikan ilmu pengetahuan dan pengajaran kepada para peserta didik. Kalau teori pendidikan hanyalah semata-mata teknologi, dia harus meneliti asumsi-asumsi utama tentang sifat manusia dan masyarakat yang menjadi landasan praktek pendidikan yang melaksanakan studi seperti itu sampai batas tersebut bersifat dan mengandung unsur filsafat. Memang ada resiko yang mungkin timbul dari setiap dua tendensi itu, teknologi mungkin terjerumus, tanpa dipikirkan buat memperoleh beberapa hasil konkrit yang telah dipertimbangkan sebelumnya didalam sistem pendidikan, hanya untuk membuktikan bahwa mereka dapat menyempurnakan suatu hasil dengan sukses, yang ada pada hakikatnya belum dipertimbangkan dengan hati-hati sebelumnya.

Sedangkan para ahli filsafat pendidikan, sebaiknya mungkin tersesat dalam abstraksi yang tinggi yang penuh dengan debat tiada berkeputusan,akan tetapi tanpa adanya gagasan jelas buat menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang ideal. Tidak ada satupun dari permasalahan kita mendesak dapat dipecahkan dengan cepat atau dengan mengulang-ulang dengan gigih kata-kata yang hampa. Tidak dapat dihindari, bahwa orang-orang yang memperdapatkan masalah ini, apabila mereka terus berpikir,yang lebih baik daripada mengadakan reaksi, mereka tentu akan menyadari bahwa mereka itu telah membicarakan masalah yang sangat mendasar.

Sebagai ajaran (doktrin) Islam mengandung sistem nilai diatas mana proses pendidikan Islam berlangsung dan dikembangkan secara konsisten menuju tujuannya. Sejalan dengan pemikiran ilmiah dan filosofis dari pemikir-pemikir sesepuh muslim, maka sistem nilai-nilai itu kemudian dijadikan dasar bangunan (struktur) pendidikan islam yang memiliki daya lentur normatif menurut kebutuhan dan kemajuan.

Pendidikan Islam mengidentifikasi sasarannya yang digali dari sumber ajarannya yaitu Al Quran dan Hadist, meliputi empat pengembangan fungsi manusia :

A.                Menyadarkan secara individual pada posisi dan fungsinya ditengah-tengah makhluk lain serta tanggung jawab dalam kehidupannya.

B.                 Menyadarkan fungsi manusia dalam hubungannya dengan masyarakat, serta tanggung jawabnya terhadap ketertiban masyarakatnya.

C.                 Menyadarkan manusia terhadap pencipta alam dan mendorongnya untuk beribadah kepada Nya

D.                Menyadarkan manusia tentang kedudukannya terhadap makhluk lain dan membawanya agar memahami hikmah tuhan menciptakan makhluk lain, serta memberikan kemungkinan kepada manusia untuk mengambil manfaatnya

Setelah mengikuti uraian diatas kiranya dapat diketahui bahwa Filsafat Pendidikan Islam itu merupakan suatu kajian secara filosofis mengenai masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan yang didasarkan pada al Qur’an dan al Hadist sebagai sumber primer, dan pendapat para ahli, khususnya para filosof Muslim, sebagai sumber sekunder.

Dengan demikian, filsafat pendidikan Islam secara singkat dapat dikatakan adalah filsafat pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam atau filsafat pendidikan yang dijiwai oleh ajaran Islam, jadi ia bukan filsafat yang bercorak liberal, bebas, tanpa batas etika sebagaimana dijumpai dalam pemikiran filsafat pada umumnya.



B.     Objek Filsafat Pendidikan 

1.         Obyek Kajian Filsafat Pendidikan

Dalam rangka menggali, menyusun, dan mengembangkan pemikiran kefilsafatan tentang pendidikan terutama pendidikan Islam, maka perlu diikuti pola dan pemikiran kefilsafatan pada umumnya.
Adapun pola dan sistem pemikiran kefilsafatan sebagai suatu ilmu adalah:

a.       Pemikiran kefilsafatan harus bersifat sistematis, dalam arti cara berfikirnya bersifat logis dan rasional tentang hakikat permasalahan yang dihadapi. Hasil pemikirannya tersusun secara sistematis artinya satu bagian dengan bagian lainnya saling berhubungan.

b.      Tinjauan terhadap permasalahan yang dipikirkan bersifat radikal artinya menyangkut persoalan yang mendasar sampai keakar-akarnya.

c.       Ruang lingkup pemikirannya bersifat universal, artinya persoalan-persoalan yang dipikirkan mencakup hal-hal yang menyeluruh dan mengandung generalisasi bagi semua jenis dan tingkat kenyataan yang ada di alam ini, termasuk kehidupan umat manusia, baik pada masa sekarang maupun masa mendatang.

d.      Meskipun pemikiran yang dilakukan lebih bersifat spekulatif, artinya pemikiran-pemikiran yang tidak didasari dengan pembuktian-pembuktian empiris atau eksperimental (seperti dalam ilmu alam), akan tetapi mengandung nilai-nilai obyektif. Dimaksud dengan nilai obyektif oleh permasalahannya adalah suatu realitas (kenyataan) yang ada pada obyek yang dipikirkannya.

Pola dan sistem berpikir filosofis demikian dilaksanakan dalam ruang lingkup yang menyangkut bidang-bidang sebagai berikut:

a.       Cosmologi yaitu suatu pemikiran dalam permasalahan yang berhubungan dengan alam semesta, ruang dan waktu, kenyataan hidup manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan, serta proses kejadian kejadian dan perkembangan hidup manusia di alam nyata dan sebagainya.

b.      Ontologi yaitu suatu pemikiran tentang asal-usul kejadian alam semesta, dari mana dan kearah mana proses kejadiannya. Pemikiran ontologis akhirnya akan menentukan suatu kekuatan yang menciptakan alam semesta ini, apakah pencipta itu satu zat (monisme) ataukah dua zat (dualisme) atau banyak zat (pluralisme). Dan apakah kekuatan penciptaan alam semesta ini bersifat kebendaan, maka paham ini disebut materialisme.

Secara makro (umum) apa yang menjadi obyek pemikiran filsafat, yaitu dalam ruang lingkup yang menjangkau permasalahan kehidupan manusia, alam semesta dan sekitarnya adalah juga obyek pemikiran filsafat pendidikan. Tetapi secara mikro (khusus) yang menjadi obyek filsafat pendidikan meliputi:

a.       Merumuskan secara tegas sifat hakikat pendidikan (The Nature of Education).

b.      Merumuskan sifat hakikat manusia sebagai subyek dan obyek pendidikan (The Nature Of Man).

c.       Merumuskan secara tegas hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan, agama dan kebudayaan.

d.      Merumuskan hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan dan teori pendidikan.

e.       Merumuskan hubungan antara filsafat negara (ideologi), filsafat pendidikan dan politik pendidikan (sistem pendidikan).

f.       Merumuskan sistem nilai norma atau isi moral pendidikan yang merupakan tujuan pendidikan.

Dengan demikian dari uraian tersebut diproleh suatu kesimpulan bahwa yang menjadi obyek filsafat pendidikan ialah semua aspek yang berhubungan dengan upaya manusia untuk mengerti dan memahami hakikat pendidikan itu sendiri, yang berhungan dengan bagaimana pelaksanaan pendidikan dan bagaimana tujuan pendidikan itu dapat dicapai seperti yang dicita-citakan.

Sedangkan menerut ajaran Islam dimana Sebagai sebuah disiplin ilmu, mau tidak mau filsafat pendidikan Islam harus menunjukkan dengan jelas mengenai bidang kajiannya atau cakupan pembahasannya. Muzayyin Arifin menyatakan bahwa mempelajari filsafat pendidikan Islam berarti memasuki arena pemikiran yang mendasar, sistematik. Logis, dan menyeluruh (universal) tentang pendidikan, ysng tidak hanya dilatarbelakangi oleh pengetahuan agama Islam saja, melainkan menuntut kita untuk mempelajari ilmu-ilmu lain yang relevan. Pendapat ini memberi petunjuk bahwa ruang lingkup filsafat Pendidikan Islam adalah masalah-masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan, seperti masalah tujuan pendidikan, masalah guru, kurikulum, metode, dan lingkungan.

Sementara menurut Abdul Munir Mulkhan, dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu obyek material dan obyek  formal. Obyek material filsafat pendidikan Islam adalah bahan dasar yang dikaji dan dianalisis, sementara obyek formalnya adalah cara pendekatan atau sudut pandang terhadap bahan dasar tersebut. Dengan demikian, obyek material filsafat pendidikan Islam adalah segala hal yang berkaitan dengan usaha manusia secara sadar untuk menciptakan kondisi yang memberi peluang berkembangnya kecerdasan, pengetahuan dan kepribadian atau akhlak peserta didik melalui pendidikan. Sedangkan obyek formalnya adalah aspek khusus daripada usaha manusia secara sadar yaitu penciptaan kondisi yang memberi peluang pengembangan kecerdasan, pengetahuan dan kepribadian  sehingga peserta didik memiliki kemampuan untuk menjalani dan menyelesaikan permasalahan hidupnya dengan menempatkan Islam sebagai hudan dan furqan. Sebagaimana dinyatakan Arifin, bahwa filsafat pendidikan Islam merupakan ilmu yang ekstensinya masih dalam kondisi permulaan perkembangan sebagai disiplin keilmuan pendidikan. Demikian pula sistematikanya, filsafat pendidikan Islam masih dalam proses penataan yang akan menjadi kompas bagi teorisasi pendidikan Islam.[1]

2.      Analisis Filsafat tentang Masalah Pendidikan

Masalah pendidikan adalah merupakan masalah hidup dan kehidupan manusia. Proses pendidikan berada dan berkembang bersama proses perkembangan hidup dan kehidupan manusia, bahkan pada hakikatnya keduanya adalah proses yang satu.

Dengan pengertian pendidikan yang luas, berarti bahwa masalah kependidikan pun mempunyai ruang lingkup yang luas pula, yang menyangkut seluruh aspek hidup dan kehidupan manusia. Sebagai contoh, berikut ini akan dikemukakan beberapa masalah kependidikan yang memerlukan anlisa filsafat dalam memahami dan memecahkannya, antara lain:

1) Masalah pendidikan pertama yang mendasar adalah tentang apakah hakikat pendidikan. Mengapa harus ada pada manusia dan merupakan hakikat hidup manusia.

2) Apakah pendidikan itu berguna untuk membina kepribadian manusia?

3) Apakah sebenarnya tujuan pendidikan itu?

Problema-problema tersebut merupakan sebagian dari contoh-contoh problematika pendidikan yang dalam pemecahannya memerlukan usaha-usaha pemikiran yang mendalam dan sistematis atau analisa filsafat. Dalam memecahkan masalah-masalah tersebut analisa filsafat menggunakan berbagai macam pendekatan yang sesuai dengan permasalahannya. Diantara pendekatan yang digunakan antara lain:

a) Pendekatan secara spekulatif

b) Pendekatan normative

c) Pendekatan analisa konsep

d) Analisa ilmiah

Selanjutnya Harry Scofield, sebagaimana dikemukakan oleh Imam Barnadib dalam bukunya Filsafat Pendidikan, menekankan bahwa dalam analisa filsafat terhadap masalah-masalah pendidikan digunakan dua macam pendekatan yaitu pendekatan filsafat historis dan pendekatan dengan menggunakan filsafat kritis.

Dengan pendekatan filsafat historis yaitu dengan cara mengadakan deteksi dari pertanyaan-pertanyaan filosofis yang diajukan, mana-mana yang telah mendapat jawaban dari para ahli filsafat sepanjang sejarah. Dalam sejarah filsafta telah berkembang dalam bentuk sistematika, jenis dan aliran-aliran filsafat tertentu. Adapun cara pendekatan filsafat kritis, dimaksudkan dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan filosofis dan diusahakan jawabannya secara filosofis pula dengan menggunakan berbagai metode dan pendekatan filosofis. Selanjutnya Schofield mengemukakan ada dua cara analisa pokok dalam pendekatan filsafat kritis yaitu analisa bahasa (linguistik) dan analisa konsep. Analisa bahasa adalah usaha untuk mengadakan interpretasi yang menyangkut pendapat-pendapat mengenai makna yang dimilikinya. Sedangkan analisa konsep adalah suatu analisa mengenai istilah-istilah (kata-kata) yang mewakili gagasan.



C.    Fungsi dan Tugas Filsafat Pendidikan

1. Fungsi dan Tugas Filsafat Pendidikan

Sebagai ilmu, pendidikan Islam bertugas untuk memberikan penganalisaan secara mendalam dan terinci tentang problema-problema kependidikan Islam sampai kepada penyelesaiannya. Pendidikan Islam sebagai ilmu, tidak melandasi tugasnya pada teori-teori saja, akan tetapi memperhatikan juga fakta-fakta empiris atau praktis yang berlangsung dalam masyarakat sebagai bahan analisa. Oleh sebab itu, masalah pendidikan akan dapat diselasaikan bilamana didasarkan keterkaitan hubungan antara teori dan praktek, karena pendidikan akan mampu berkembang bilamana benar-benar terlibat dalam dinamika kehidupan masyarakat. Antara pendidikan dan masyarakat selalu terjadi interaksi (saling mempengaruhi) atau saling mengembangkan sehingga satu sama lain dapat mendorong perkembangan untuk memperkokoh posisi dan fungsi serta idealisasi kehidupannya. Ia memerlukan landasan ideal dan rasional yang memberikan pandangan mendasar, menyeluruh dan sistematis tentang hakikat yang ada dibalik masalah pendidikan yang dihadapi.

Dengan demikian filsafat pendidikan menyumbangkan analisanya kepada ilmu pendidikan Islam tentang hakikat masalah yang nyata dan rasional yang mengandung nilai-nilai dasar yang dijadikan landasan atau petunjuk dalam proses kependidikan.

Tugas filsafat adalah melaksanakan pemikiran rasional analisis dan teoritis (bahkan spekulatif) secara mendalam dan memdasar melalui proses pemikiran yang sistematis, logis, dan radikal (sampai keakar-akarnya), tentang problema hidup dan kehidupan manusia. Produk pemikirannya merupakan pandangan dasar yang berintikan kepada “trichotomi” (tiga kekuatan rohani pokok) yang berkembang dalam pusat kemanusiaan manusia (natropologi centra) yang meliputi:

· Induvidualisme

· Sosialitas

· Moralitas

Ketiga kemampuan tersebut berkembang dalam pola hubungan tiga arah yang kita namakan “trilogi hubungan” yaitu:

· Hubungan dengan Tuhan, karena ia sebagai makhluk ciptaan-Nya.

· Hubungan dengan masyarakat karena ia sebagai masyarakat.

· Hubungan dengan alam sekitar karena ia makhluk Allah yang harus mengelola, mengatur, memanfaatkan kekayaan alam sekitar yang terdapat diatas, di bawah dan di dalam perut bumi ini.

2. Analisis Hubungan Filsafat dengan Pendidikan

Dalam berbagai bidang ilmu sering kita dengar istilah vertikal dan horisontal. Istilah ini juga akan terdengar pada cabang filsafat bahkan filsafat pendidikan. Antara filsafat dan pendidikan terdapat hubungan horisontal, meluas kesamping yaitu hubungan antara cabang disiplin ilmu yang satu dengan yang lain yang berbeda-beda, sehingga merupakan synthesa yang merupakan terapan ilmu pada bidang kehidupan yaitu ilmu filsafat pada penyesuaian problema-problema pendidikan dan pengajaran. Filsafat pendidikan dengan demikian merupakan pola-pola pemikiran atau pendekatan filosofis terhadap permasalahan bidang pendidikan dan pengajaran.
Adapun filsafat pendidikan menunjukkan hubungan vertikal, naik ke atas atau turun ke bawah dengan cabang-cabang ilmu pendidikan yang lain, seperti pengantar pendidikan, sejarah pendidikan, teori pendidikan, perbandingan pendidikan dan puncaknya filsafat pendidikan. Hubungan vertikal antara disiplin ilmu tertentu adalah hubungan tingkat penguasaan atau keahlian dan pendalaman atas rumpun ilmu pengetahuan yang sejenis. Maka dari itu, filsafat pendidikan sebagai salah satu bukan satu-satunya ilmu terapan adalah cabang ilmu pengetahuan yang memusatkan perhatiannya pada penerapan pendekatan filosofis pada bidang pendidikan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan hidup dan penghidupan manusia pada umumnya dan manusia yang berpredikat pendidik atau guru pada khususnya.

Dalam buku filsafat pendidikan karangan Prof. Jalaludin dan Drs. Abdullah Idi mengemukakan bahwa Jhon S. Brubachen mengatakan hubungan antara filsafat dan pendidikan sangat erat sekali antara yang satu dengan yang lainnya. Kuatnya hubungan tersebut disebabkan karena kedua disiplin tersebut menghadapi problema-problema filsafat secara bersama-sama.

Sementara kegunaan filsafat pendidikan Islam menurut Prof. Mohammad Athiyah Abrosyi dalam kajiannya tentang pendidikan Islam telah menyimpulkan 5 tujuan yang asasi bagi pendidikan Islam yang diuraikan dalam “ At Tarbiyah Al Islamiyah Wa Falsafatuha “ yaitu :

1.   Untuk membantu pembentukan akhlak yang mulia. Islam menetapkan bahwa pendidikan akhlak adalah jiwa pendidikan Islam.

2.   Persiapan untuk kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Pendidikan Islam tidak hanya menaruh perhatian pada segi keagamaan saja dan tidak hanya dari segi keduniaan saja, tetapi dia menaruh perhatian kepada keduanya sekaligus.

3.   Menumbuhkan ruh ilmiah pada pelajaran dan memuaskan untuk mengetahui dan memungkinkan ia mengkaji ilmu bukan sekedar sebagai ilmu. Dan juga agar menumbuhkan minat pada sains, sastra, kesenian, dalam berbagai jenisnya.

4.   Menyiapkan pelajar dari segi profesional, teknis, dan perusahaan supaya ia dapat mengusai profesi tertentu, teknis tertentu dan perusahaan tertentu, supaya dapat ia mencari rezeki dalam hidup dengan mulia di samping memelihara dari segi kerohanian dan keagamaan.

5.   Persiapan untuk mencari rezeki dan pemeliharaan segi-segi kemanfaatan. Pendidikan Islam tidaklah semuanya bersifat agama atau akhlak, atau sprituil semata-mata, tetapi menaruh perhatian pada segi-segi kemanfaatan pada tujuan-tujuan, kurikulum, dan aktivitasnya. Tidak lah tercapai kesempurnaan manusia tanpa memadukan antara agama dan ilmu pengetahuan.

D.    Implikasi Landasan Filsafat Pendidikan.

1. Implikasi Bagi Guru

     Apabila kita konsekuen terhadap upaya memprofesionalkan pekerjaan guru maka filsafat pendidikan merupakan landasan berpijak yang mutlak. Artinya, sebagai pekerja professional, tidaklah cukup bila seorang guru hanya menguasai apa yang harus dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya. Kedua penguasaan ini baru tercermin kompetensi seorang tukang.

     Disamping penguasaan terhadap apa dan bagaimana tentang tugasnya, seorang guru juga harus menguasai mengapa ia melakukan setiap bagian serta tahap tugasnya itu dengan cara tertentu dan bukan dengan cara yang lain. Jawaban terhadap pertanyaan mengapa itu menunjuk kepada setiap tindakan seorang guru didalam menunaikan tugasnya, yang pada gilirannya harus dapat dipulangkan kepada tujuan-tujuan pendidikan yang mau dicapai, baik tujuan-tujuan yang lebih operasional maupun tujuan-tujuan yang lebih abstrak. Oleh karena itu maka semua keputusan serta perbuatan instruksional serta non-instruksional dalam rangka penunaian tugas-tugas seorang guru dan tenaga kependidikan  harus selalu dapat dipertanggungjawabkan secara pendidikan (tugas professional, pemanusiaan dan civic) yang dengan sendirinya melihatnya dalm perspektif yang lebih luas dari pada sekedar pencapaian tujuan-tujuan instruksional khusus, lebih-lebih yang dicekik dengan batasan-batasan behavioral secara berlebihan.

     Dimuka juga telah dikemukakan bahwa pendidik dan subjek didik melakukan pemanusiaan diri ketika mereka terlihat di dalam masyarakat profesional yang dinamakan pendidikan itu; hanyalah tahap proses pemanusiaan itu yang berbeda, apabila diantara keduanya, yaitu pendidik dan subjek didik, dilakukan perbandingan. Ini berarti kelebihan pengalaman, keterampilan dan wawasan yang dimiliki guru semata-mata bersifat kebetulan dan sementara, bukan hakiki. Oleh karena itu maka kedua belah pihak terutama harus melihat transaksi personal itu sebagai kesempatan belajar dan khusus untuk guru dan tenaga kependidikan, tertumpang juga tanggungjawab tambahan menyediakan serta mengatur kondisi untuk membelajarkan subjek didik, mengoptimalkan kesempatamn bagi subjek didik untuk menemukan dirinya sendiri, untuk menjadi dirinya sendiri (Learning to Be, Faure dkk, 1982). Hanya individu-individu yang demikianlah yang mampu membentuk masyarakat belajar, yaitu masyarakat yang siap menghadapi perubahan-perubahan yang semakin lama semakin laju tanpa kehilangan dirinya.

Apabila demikianlah keadaannya maka sekolah sebagai lembaga pendidikan formal hanya akan mampu menunaikan fungsinya serta tidak kehilangan hak hidupnya didalam masyarakat, kalau ia dapat menjadikan dirinya sebagai pusat pembudayaan, yaitu sebagai tempat bagi manusia untuk meningkatkan martabatnya. Dengan perkataan lain, sekolah harus menjadi pusat pendidikan. Menghasilkan tenaga kerja, melaksanakan sosialisasi, membentuk penguasaan ilmu dan teknologi, mengasah otak dan mengerjakan tugas-tugas persekolahan, tetapi yang paling hakiki adalah pembentukan kemampuan dan kemauan untuk meningkatkan martabat kemanusiaan seperti telah diutarakan di muka dengan menggunakan cipta, rasa, karsa dan karya yang dikembangkan dan dibina.

Perlu digarisbawahi di sini adalah tidak dikacaukannya antara bentu dan hakekat. Segala ketentuan prasarana dan sarana sekolah pada hakekatnya adalah bentuk yang diharapkan mewadahi hakekat proses pembudayaan subjek didik. Oleh karena itu maka gerakan ini hanya berhenti pada “penerbitan” prasarana dan sarana sedangkan transaksi personal antara subjek didik dan pendidik, antara subjek didik yang satu dengan subjek didik yang lain dan antara warga sekolah dengan masyarakat di luarnya masih  belum dilandasinya, maka tentu saja proses pembudayaan tidak terjadi. Seperti telah diisyaratkan dimuka, pemberian bobot yang berlebihan kepada kedaulatan subjek didikakan melahirkan anarki sedangkan pemberian bobot yang berlebihan kepada otoritas pendidik akan melahirkan penjajahan dan penjinakan. Kedua orientasi yang ekstrim itu tidak akan menghasilkan pembudayaan manusia.

2. Implikasi bagi Pendidikan Guru dan Tenaga Kependidikan

Tidaklah berlebihan kiranya bila dikatakan bahwa di Indonesia kita belum punya teori tentang pendidikan guru dan tenaga kependidikan. Hal ini tidak mengherankan karena kita masih belum saja menyempatkan diri untuk menyusunnya. Bahkan salahsatu prasaratnya yaitu teori tentang pendidikan sebagimaana diisyaratkan pada bagian-bagian sebelumnya, kita masih belum berhasil memantapkannya. Kalau kita terlibat dalam berbagi kegiatan pembaharuan pendidikan selama ini maka yang diperbaharui adalah pearalatan luarnya bukan bangunan dasarnya.

Hal diatas itu dikemukakan tanpa samasekali didasari oleh anggapan bahwa belum ada diantara kita yang memikirkan masalah  pendidikan guru itu. Pikiran-pikiran yang dimaksud memang ada diketengahkan orang tetapi praktis tanpa kecuali dapat dinyatakan sebagi bersifat fragmentaris, tidak menyeluruh. Misalnya, ada yang menyarankan masa belajar yang panjang (atau, lebih cepat, menolak program-program pendidikan guru yang lebih pendek terutama yang diperkenalkan didalam beberapa tahun terakhir ini) ; ada yang menyarankan perlunya ditingkatkan mekanisme seleksi calon guru dan tenaga kependidikan; ada yang menyoroti pentingnya prasarana dan sarana pendidikan guru; dan ada pula yang memusatkan perhatian kepada perbaikan sistem imbalan bagi guru sehingga bisa bersaing dengan jabtan-jabatan lain dimasyarakat. Tentu saja semua saran-saran tersebut diatas memiliki kesahihan, sekurang-kurangnya secara partial, akan tetapi apabila di implementasikan, sebagian atau seluruhnya, belum tentu dapat dihasilkan sistem pendidikan guru dan tenaga kependidikan yang efektif.

Sebaiknya teori pendidikan guru dan tenaga kependidikan yang produktif adalah yang memberi rambu-rambu yang memadai didalam merancang serta mengimplementasikan program pendidikan guru dan tenaga kependidikan  yang lulusannya mampu melaksanakan tugas-tugas keguruan didalam konteks pendidikan (tugas professional, kemanusiaan dan civic). Rambu-rambu yang dimaksud disusun dengan mempergunakan bahan-bahan yang diperoleh dari tiga sumber yaitu: pendapat ahli, termasuk yang disangga oleh hasil penelitian ilmiah, analisis tugas kelulusan serta pilihan nilai yang dianut masyarakat. Rambu-rambu yang dimaksud yang mencerminkan hasil telaahan interpretif, normative dan kritis itu, seperti telah diutarakan didalam bagian uraian dimuka, dirumuskan kedalam perangkat asumsi filosofis yaitu asumsi-asumsi yang memberi rambu-rambu bagi perancang serta implementasi program yang dimaksud. Dengan demikian, perangkat rambu-rambu yang dimaksud merupakan batu ujian didalam menilai perancang dan implementasi program, maupun didalam “mempertahankan” program dari penyimpngan-penyimpangan pelaksanaan ataupun dari serangan-serangan konseptual.[2]



BAB III

Penutup

Dapat disimpulkan bahwa kata filsafat berasal dari bahasa Yunani: philoshophia. Terdiri dari kata philos yang berarti cinta, senang, suka dan kata sophia berarti pengetahuan, hikmah dan kebijaksanaan. Hasan Shadily mengatakan bahwa filsafat menurut arti katanya adalah cinta kepada ilmu pengetahuan atau kebenaran, suka kepada hikmah dan kebijaksanaan.
Diantara tugas filsafat antara lain adalah melaksanakan pemikiran rasional analisis dan teoritis (bahkan spekulatif) secara mendalam dan mendasar melalui proses pemikiran yang sistematis, logis, dan radikal (sampai keakar-akarnya), tentang problema hidup dan kehidupan manusia.

Islam dengan sumber ajarannya al Qur’an dan al Hadist yang diperkaya oleh penafsiran para ulama ternyata telah menunjukkan dengan jelas dan tinggi terhadap berbagai masalah yang terdapat dalam bidang pendidikan. Karenanya tidak heran ntuk kita katakan bahwa secara epistimologis Islam memilki konsep yang khas tentang pendidikan, yakni pendidikan Islam.

Demikian pula pemikiran filsafat Islam yang diwariskan para filosof Muslim sangat kaya dengan bahan-bahan yang dijadikan rujukan guna membangun filsafat pendidikan Islam. Konsep ini segera akan memberikan warna tersendiri terhadap dunia pendidikan jika diterapkan secara konsisten. Namun demikian adanya pandangan tersebut bukan berarti Islam bersikap ekslusif. Rumusan, ide dan gagasan mengenai kependidikan yang dari luar dapat saja diterima oleh Islam apabila mengandung persamaan dalam hal prinsip, atau paling kurang tidak bertentangan. Tugas kita selanjutnya adalah melanjutkan penggalian secara intensif terhadap apa yang telah dilakukan oleh para ahli, karena apa yang dirumuskan para ahli tidak lebih sebagai bahan perbangdingan, zaman sekarang berbeda dengan zaman mereka dahulu. Karena itu upaya penggalian masalah kependidikan ini tidak boleh terhenti, jika kita sepakat bahwa pendidikan Islam ingin eksis ditengah-tengah percaturan global.



DAFTAR PUSTAKA 

Ahmad Hanafi, M.A., Pengantar Filsafat Islam, Cet. IV, Bulan Bintang, Jakarta, 1990.

Prasetya, Drs., Filsafat Pendidikan, Cet. II, Pustaka Setia, Bandung, 2000

Titus, Smith, Nolan., Persoalan-persoalan Filsafat, Cet. I, Bulan Bintang, Jakarta, 1984.

Ali Saifullah H.A., Drs., Antara Filsafat dan Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya, 1983.

Zuhairini. Dra, dkk., Filsafat Pendidikan Islam, Cet.II, Bumi Aksara, Jakarta, 1995.

Abuddin Nata, M.A., Filsafat Pendidikan Islam, Cet. I, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997

Munawwaroh, Djunaidatul dan Tanenji, Filsafat Pendidikan (perspektif islam dan umum), UIN Jakarta Press, Jakarta: 2003

Selasa, 17 Oktober 2017

SMPN 3 Balung "ENERGI MATAHARI"

Energi Energi matahari atau energi surya sudah dimanfaatkan sejak awal peradaban manusia berlangsung di bumi. Manusia telah memanfaatkan panas dari energi matahari (energi surya) untuk menunjang kehidupan. Panas sinar matahari digunakan manusia untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari menghangatkan tubuh, menjemur pakaian, mengolah pertanian dan perikanan. Inilah salah satu anugerah Allah SWT kepada manusia. Energi matahari telah menjadi teman manusia hingga akhir zaman, insya Allah.

Setelah energi surya / energi matahari, mulailah manusia memanfaatkan energi biomassa seperti kayu bakar. Berikutnya, penggunaan energi lainnya mulai dilakukan seiring dengan perkembangan peradaban. Perkembangan teknologi dan kegigihan ilmuwan mendorong terjadinya penggunaan berbagai jenis energi, seperti energi angin, air, minyak, batubara, gas, nuklir dll. Manusia mulai mendiversifikasi pemenuhan kebutuhan energi. Dari berbagai energi ini, energi fosil (minyak, batubara, dan gas) dan nuklir kemudian menjadi energi utama dunia. 

Namun, penggunaan energi fosil dan nuklir telah menimbulkan konsekuensi serius bagi kehidupan manusia. Energi fosil telah memicu pemanasan global akibat polusi yang ditimbulkannnya. Sementara, energi nuklir yang sangat berbahaya juga telah mengalami beberapa kecelakaan yang telah berdampak sangat besar terhadap lingkungan dan manusia. Dunia kemudian lebih mengekplorasi dua energi terbarukan/ET (renewable energy/RE). Dari berbagai ET, energi matahari (energi surya) dan angin merupakan yang paling getol dilakukan. Dari dua energi ET ini, energi matahari (energi surya) memiliki potensi yang lebih baik. Sebab, energi matahari hampir menyinari seluruh permukaan bumi.

A. Penggunaan Energi Matahari Zaman Dahulu
Penulis yakin, sejak awal peradaban manusia sudah banyak yang memanfaatkan panas dari energi matahari untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, tidak ada catatan yang mengenangnya. Berdasarkan data dari internet (browsing), ada tiga penggunaan unik dari panas dari energi matahari yang bisa dipakai untuk renungan. Pertama, alat untuk membuat api di China. Berdasarkan dokumentasi Code Of Zhou Regulation,yaitu dinasti Zhou barat pada abad ke 11 SM sampai dengan 771 SM, Dimasti Zhou menemukan alat yang bisa menggunakan cahaya matahari untuk membuat api. Arkeolog menemukan alat pembuat api ini pada tahun 1995 di pemakaman dinasti Zhou yang terletak di provinsi sanxhi. Gambar bisa lihat di http://catatan-teknik.blogspot.com/2014/05/sejarah-teknologi-solar-thermal.html.

Kedua, senjata pembakar kapal tenaga matahari (energi matahari)yang dibuat oleh Archimedes. Ini merupakan cerita legenda Yunani. Legenda tersebut menyebutkan Archimedes berhasil menghancurkan armada kapal Roma yang berniat menyerang kota Syracuse, yang merupakan tempat tinggalnya. Archimedes menangkap energi matahari dan menjadikannya sebagai senjata dengan menggunakan cermin besar atau beberapa cermin. Ilustrasi bisa dilihat di http://www.unmuseum.org/burning_mirror.htm.

Namun, para ilmuwan dan peneliti masih belum bisa membuktikan kebenaran legenda ini. Beberapa percobaan telah dilakukan untuk membuktikannya. Hasilnya, keilmiahan metode yang digunakan Archimedes sulit diwujudkan. Bahkan, Mantan Presiden Amerika Serikat, Barrak Obama pernah menantang ilmuwan Negeri Paman Sam untuk mewujudkannya. Namun, kini belum tantangan dari Obama belum bisa diwujudkan oleh peneliti di Amerika. Secara prinsip, senjata ini sebenarnya mirip teknologi yang digunakan pada pembangkit menara (solar tower). Peneliti menyatakan, teknologi ini sulit digunakan untuk peperangan. Sebab, musuh (armada musuh) selalu bergerak dengan cepat. Menfokuskan energi termal matahari hingga bisa menghasilkan daya yang merusak (membakar kapal) sulit untuk diwujudkan. 

Ketiga, kompor (oven) matahari yang ditemukan oleh ilmuwan perancis-swis Horace Benedict de Saussure pada tahun 1767. Gambar dibawah menunjukkan rancangan Benedict de Saussure. Perangkat tersebut terdiri dari dua buah kotak kayu, kotak kecil yang berada didalam kotak yang besar. Di antara dua kotak tersebut diberi bahan insulasi. Di atas kotak kecil dipasang tiga lapis kaca dengan udara diantaranya. Dengan mangarahkan perangkat tersebut tegak lurus cahaya matahari, dalam beberapa jam, suhu di dalam kotak dapat mencapai di atas 100 oC. Perangkat ini pun diujicobakan di puncak gunung Cramont. Hasilnya, oven ini dapat memanaskan air hingga mencapai titik didihnya walaupun suhu udara sekitarnya sekitar 5-10 derajat selsius. Ilustrasi bisa dilihat di http://solarcooking.org/saussure.htm.

Meski telah lolos uji, tapi oven berbentuk kotak buatan de Saussure tidak populer. Sebab, proses pemanasannya memakan waktu yang sangat lama. Kekurangan lainnya, oven ini menghasikan suhu yang tidak cukup panas untuk memasak.

Produk massal pemanas dengan teknologi yang memanfaatkan energi matahari pertama kali dibuat oleh W Adam pada tahun 1870-an di Bombay, India. Adam menamakan produk ini sebagai oven solar (solar oven). Skema oven solar dalam mengonsentrasikan cahaya matahari ditunjukkan dalam gambar dibawah di link http://solarcooking.org.

Delapan buah cermin (A) membentuk reflektor octagon. Sinar matahari diarahkan ke dalam kotak (B) yang terbuat dari kayu yang diatasnya ditutup dengan kaca. Didalam kotak terdapat panci (C). Temperatur di dalam kotak B dapat mencapai suhu 200 derajat celsius.

B. Penggunaan Energi Matahari Zaman Sekarang
Saat ini, manusia telah menggunakan panas dari energi matahari untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Berikut berbagai pemanfaatan panas matahari (solar thermal):

1. Kompor matahari (surya)
Kompor matahari merupakan salah satu aplikasi yang memanfaatkan panas dari energi matahari untuk memenuhi kebutuhan memasak berbagai jenis makanan. Kompor matahari merupakan pemanas yang sangat ramah lingkungan, karena hanya membutuhkan sinar matahari sebagai sumber energinya. Kompor ini hemat biaya dan bebas polusi dibandingkan kompor minyak, batubara, dan kayu bakar. Penggunaan secara massal bisa mengurangi polusi udara dalam jumlah yang besar.

Kompor matahari secara umum terbagi dalam dua, yaitu kompor parabola dan kotak oven. Secara umum, kompor matahari memasak menggunakan tiga metode, yaitu pemanasan, pemanggangan, dan pasteurisasi. Kompor parabola memasak menggunakan metode pemanasan dan pasteurisasi, sementara kotak oven metodenya pemanggangan. 

Kompor parabola merupakan alat yang terbuat dari cermin (atau serupa cermin) yang fungsinya menfokuskan panas matahari pada satu titik di pusat parabola. Di titik inilah, panas dari energi matahari akan terkumpul. Panas yang terkumpul ini bisa menghasilkan suhu ratusan hingga 600 derajat celsius. Tinggi rendahnya suhu yang dicapai tergantung teknologi cermin parabola yang dipakai. 

Panas yang tinggi di pusat parabola inilah yang dimanfaatkan untuk memasak. Untuk pemanfaatan langsung, alat pemasak seperti panci atau wajan ditempatkan di pusat parabola. Sementara, penggunaan panas tidak langsung dilakukan dengan mengalirkan panas di pusat parabola dengan menggunakan media penghantar panas seperti logam, cairan, dan udara. 

Kompor parabola juga dapat digunakan untuk proses pasteurisasi makanan. Prosesnya, panas yang dihasilkan di pusat parabola digunakan untuk memproduksi uap dari proses pemanasan air. Uap inilah yang dimanfaatkan untuk proses pasteurisasi.

Sementara kompor oven merupakan alat berbentuk kotak tertutup. Penutup atas terbuat dari kaca bening yang memiliki dua fungsi, yaitu menyalurkan energi matahari ke dalam kotak dan menahan panas yang ada di dalam kotak agar tidak keluar. Di bagian dalam kotak ada plat kolektor panas sinar matahari yang biasanya terbuat dari logam. Panas dari logam inilah yang akan memanaskan oven. Suhu yang dihasilkan kompor oven lebih rendah dibandingkan kompor parabola, meski begitu pencapaiannya diatas 100 derajat celsiu sehingga cukup layak untuk proses pemanggangan masakan. 

Saat ini, sudah banyak negara di Afrika dan Asia yang menggunakan kompor matahari untuk memasak. India merupakan negara yang paling getol menggunakan energi bersih dan sangat murah ini. 

2. Pengering Matahari
Proses pengeringan dengan memanfaatkan sinar matahari sudah dipakai manusia sejak dahulu. Mulai dari menjemur pakaian, mengeringkan bahan-bahan yang basah, serta pengeringan produk pertanian dan perikanan. Sebagian besar pengeringan dilakukan secara tradisional, yaitu dengan cara menjemur di bawah terik matahari di udara terbuka. Namun, cara ini sangat bergantung kepada cuaca. Saat mendung proses pengeringan berlangsung lebih lama, sementara saat hujan pengeringan tidak bisa dilakukan. 

Kendala cuaca inilah yang membuat peneliti mengembangkan pengering matahari tertutup. Ada banyak teknologi pengering tertutup, dan yang kita akan bahas adalah pengering sederhana. Disebut sederhana karena teknologi dan kontruksinya sederhana, ukurannya kecil, tidak membutuhkan banyak bahan, pembuatanya tidak rumit, dan yang terpenting biayanya murah, he he he... Pengering ini bisa dibuat sendiri, meski perlu sedikit keahlian pertukangan. Gambar bisa dilihat di http://teknikcivil2.blogspot.com/2013/05/prisip-kerja-pengering-tenaga-surya.html.

Prinsip kerja pengering tenaga surya:
Sinar matahari masuk menembus tutup kaca kemudian akan memanasi plat kolektor yang ada pada dasar kotak pengering. Untuk pengering tenaga surya sederhana, ruang kolektor menjadi satu dengan kotak pengering. Karena diruangan tertutup, panasnya kolektor membuat suhu ruangan meningkat. Selain kolektor, pemanasan juga disumbang dari bahan pembuat kotak pengering yang biasanya terbuat dari seng. Sinar matahari ini juga akan mengenai langsung bahan yang di keringkan sekaligus menyebabkan udara di dalam kotak pengeringan tersebut menjadi sangat panas.

Sementara itu udara luar akan masuk di dalam kotak lewat bawah mengalir ke atas kemudian keluar lewat cerobong. Jadi bahan yang berada di kotak pengeringan tersebut akan di keringkan langsung oleh sinar matahari, serta udara panas di dalam kotak pengeringan tersebut, kemudian jika masih ada uap air akan terbawa oleh udara yang masuk dari bawah menuju ke atas dan keluar melalui cerobong.

Jika sinar matahari tertutup awan udara di dalam kotak pengering tersebut akan tetap panas. Sebab, kotak dibuat kedap dengan adanya isolator,meskipun sepanas sewaktu sinar matahari terik. Jika matahari bersinar kembali, suhu di dalam kotak pengering tersebut akan segera meninggi, tanpa memerlukan waktu yang lama. Adapun pengering tenaga surya yang lebih kompleks, kotak kolektor akan terpisah dengan ruangan pengering. Kolektor panas bisa terbuat dari plat datar, tabung, lensa cekung, dan parabola.

3. Pemanas Air (solar water heating system)
Selama 20 tahun terakhir orang Indonesia sudah sering melihat instalasi panel surya untuk pemanas air. Penggunaan pemanas air untuk perumahan hampir terjadi di seluruh dunia. Investasi memasang sistem pemanas air di rumah disebut-sebut sebagai investasi yang efektif karena bisa memanaskan air sepanjang tahun, tanpa terhalang musim. Energi yang dipakai adalah energi matahari yang gratis. Kota Barcelona di Spanyol merupakan salah satu kota percontohan yang menggunakan panas matahari untuk pemanas air secara massif. 

Sistem pemanas air tenaga matahari ini dibagi dalam dua, yaitu pasif dan aktif. 

3.1 Pemanas aktif
Ada dua tipe pada sistem pemanas air aktif, yaitu sistem sirkulasi langsung dan tak langsung. Pada sistem sirkulai langsung, air dipanaskan melalui sirkulasi langsung ke penangkap panas (panel surya). Sementara pada sistem tak langsung, panas yang terjadi pada panel surya diserap oleh cairan yang kemudian disirkulasikan ke sistem penyimpanan panas. Secara umum, sistem penyimpanan panas berupa sebuah tabung yang prinsip kerjanya seperti termos untuk menyimpan air panas. Dalam tabung terdapat penyalur panas (heat exchanger) yang memanaskan pipa saluran air rumah. Sistem aktif tak langsung inilah yang banyak digunakan oleh masyarakat.
3.2 Pemanas Pasif
Sistem pasif hampir serupa dengan aktif dengan biaya yang lebih murah. Namun, tingkat efisiensinya lebih rendah. Meski begitu, sistemnya diprediksi lebih tahan lama. Ada dua sitem dalam pasif ini. Pertama, sistem pasif penangkap panas terintegrasi (integral collector-storage passive stem). Sistem ini efektif untuk wilayah yang memiliki suhu dibawah nol. Aplikasi terbaik untuk kebutuhan air panas pada siang hingga sore hari. Kedua, sistem thermosyphon, yaitu aliran air yang memasuki sistem karena adanya perbedaan suhu air. Air panas akan naik dan air dingin akan berada dibawah. Panel surya sebagai pengumpul panas harus ditempatkan dibawah tangki air sehingga air panas akan naik ke tangki. 

4. Penghangat dan Pendingin Ruangan
Panas matahari juga dapat digunakan untuk menghangatkan dan mendinginkan ruangan. Penghangat ruangan, dibutuhkan oleh masyarakat yang mengalami musim dingin di negara empat musim. Berikutnya, masyarakat di pegunungan yang suhunya dingin. Penghangat ruangan memanfaatkan panas yang diterima kolektor panas (panel surya) untuk menghangatkan ruangan. Sementara pendingin udara (air conditioning/AC) bekerja dengan cara mengalirkan panas dari sel surya ke alat yang disebut chiller. Pada chiller, terjadi proses evaporasi gas untuk menghasilkan suhu dingin.

Gambar dibawah menjelaskan penghangat dan penyejuk ruangan tenaga surya yang banyak digunakan oleh masyarakat di negara-negara 4 musim. Mereka membutuhkan kombinasi alat penghangat dan penyejuk udara karena mengealami musim dingin dan panas. Kalau di Indonesia mungkin hanya dibutuhkan alat penyejuk udara saja.

5. Pembangkit Listrik 
Dunia telah membangun berbagai pembangkit Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Pembangkitan listrik dilakukan dengan panel surya penerima panas (solar thermal) dan panel fotovoltaik. Ada berbagai teknologi yang digunakan untuk membangkitkan listik menggunakan panel surya penerima panas, diantaranya, pembangkit menara (power tower) berbasis turbin uap, pembangkit menara berbasis turbin udara (solar updraft), pembangkit parabola, dan pembangkit lensa cekung. 

Salah satu keunggulan PLTS dengan panel thermal adalah daya yang dihasilkan bisa sangat besar, mencapai ratusan MW. Salah satu power tower di Amerika bisa berkapasitas 700 MW. PLTS berbasis panel thermal juga dibangun dilahan yang tidak produktif atau yang sulit ditanami tanaman pangan dan industri karena lahannya yang ekstrim. Lahan yang cocok adalah sahara atau padang pasir yang banyak terdapat di Amerika, Australia, Afrika, dan Timur Tengah. Salah satu kendala ada pada teknologi berbasis turbin uap karena membutuhkan air yang cukup banyak untuk menghasilkan uap, padahal lokasi pembangunannya di tempat ekstrim yang mana air merupakan barang yang sangat berharga. Namun, kendala ini sekarang bisa diatasi dengan teknologi turbin berbasis gas dan aliran udara keatas (solar updraft).

5.1 Menara Pembangkit (power tower) Berbasis Turbin Uap
Pembangkit ini bekerja dengan cara memusatkan panas matahari menggunakan ratusan cermin datar otomatis yang bisa mengikuti pergerakan matahari yang disebut heliostats. Panas matahari dipantulkan heliostats ke alat penerima panas di puncak menara. Suhu yang terkonsentrasi di penerima panas mencapai 1,350 derajat celsius atau 2.500 fahrenheit. Berikutnya, panas ini kemudian dialirkan menggunakan media, diantaranya air, gas, atau garam cair ke ketel penghasil uap. Panas akan memanaskan ketel sehingga menghasilkan uap. Berikutnya, uap digunakan menggerakkan turbin dan menghasilkan listrik. Turbin uap yang digunakan adalah turbin uap seperti yang dijumpai di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) bebasis batubara sebagai energi primer. 

Dari berbagai media penyimpan dan penghantar panas, garam cair adalah yang terbaik. Ada beberapa garam cair yang digunakan, diantaranya campuran sodium nitrate, potassium nitrate and calcium nitrate, lithium nitrate, dll. Garam cair juga dapat menyimpan panas dalam jangka waktu yang lama (bisa 1 minggu) menggunakan teknologi sistem penyimpanan garam cair (molten salt storage system). Dengan teknologi ini, power tower bisa menghasilkan listrik selama 24 jam, meski cuaca mendung dan malam hari. Tingkat efisiensi sistem ini mencapai 93-97%, sangat ekonomis dibandingkan pembangkit listrik berbahan bakar lainnya. Turbin listrik berkapasitas 100 MW membutuhkan tanki penyimpan panas setinggi 9,1 meter dan berdiameter 24 meter.

Proses pembangkitan listrik dimulai dari pemanasan garam cair di alat penerima panas di puncak menara. Garam meleleh pada suhu 131 derajat selsius, dan tetap dalam kondisi cair pada suhu 290 derajat celsius didalam tanki penyimpan garam cair dingin. Garam cair di tangki penyimpan dingin dialirkan ke penerima panas sehingga suhunya naik menjadi 565 derajat celsius. Lalu, garam cair dikirim ke tanki penyimpanan panas (prinsip kerjanya seperti termos) yang tertutup rapat dan dilengkapi lapisan penahan panas. Dari tangki ini, garam cair panas dialirkan ke generator uap untuk menghasilkan uap. Uap ini lalu digunakan menggerakkan turbin untuk menghasilkan listrik. Setelah dipakai menghasilkan uap, suhu garam cair turun menjadi sekitar 290 derajat celsius dan dialirkan ke tanki penyimpan dingin. Kemudian proses pemanasan dimulai lagi. Begitu seterusnya.

5.2 Menara Pembangkit (power tower) Berbasis Turbin Udara (Solar Updarft)
Power Tower berbasis turbin udara menggunakan turbin kaplan atau turbin yang biasa digunakan pada Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Karena menggunakan turbin berbasis udara, power tower jenis ini tidak membutuhkan air dan ini merupakan salah satu keunggulannya karena air merupakan SDA yang sulit didapat di lahan ekstrim.

Ada tiga bagian penting dari menara pembangkit ini, yaitu menara, kanopi, dan turbin. Menara, menara ini merupakan teknologi mesin thermal berbasis matahari. Menara berbentuk cerobong ini dapat mengubah panas menjadi energi mekanik. Proses naiknya udara panas ke puncak cerobong terjadi hal yang menjadi dasar pembangkitan listrik. Semakin tinggi menara cerobong akan semakin kuat aliran udara panasnya. Kanopi, berfungsi menangkap panas matahari dan mengalirkannya ke tempat penyimpanan panas yang dibangun dibawahnya. Penyimpanan panas menggunakan sistem penyimpanan panas bawah tanah. Jadi, kanopi harus terbuat dari alat penerima panas yang memiliki efisiensi tinggi. Turbin, berfungsi mengubah aliran udara panas menjadi listrik. Saat ini, perusahaan asal Australia EnviroMission mengumumkan akan membangun pembangkit jenis ini di California dengan kapasitas 200 MW.

5.3 Pembangkit Parabola
Memiliki kapasitas lebih kecil, sekitar 3-25 kilowat per satu parabola. Ada tiga bagian dari pembangkit ini, yaitu cermin parabola, penerima panas yang diletakkan puncak parabola, dan mesin stirling yang akan menghasilkan listrik. Cermin parabola akan memusatkan panas matahari ke penerima panas. Panas di penerima panas kemudian dialirkan dengan media ke mesin stirling. Untuk pembangkit parabola, media yang digunakan adalah hydrogen atau helium. Gas panas akan diubah menjadi listrik menggunakan mesin stirling. Mesin ini menggunakan gas panas untuk menggerakkan piston dan menciptakan tenaga mekanik. 

5.4 Pembangkit Lensa Cekung
Pembangkit lensa cekung berpangku pada sistem konsentrasi linier (Linear concentrating solar power/CSP) untuk menghasilkan listrik. Ada dua teknologi dalam pembangkitan lensa cekung, yaitu sistem pengumpul parabola (parabolic trough system) dan sistem reflektor fresnel linier (linear fresnel reflector system). Untuk pembangkitan listrik menggunakan mesin uap biasa. Satu sistem besar bisa menghasilkan listrik 50-250 MW. 

A Parabolic Trough System
Pada pembangkitan sistem ini, tabung penerima panas di pasang di bagian tengah lensa cekung tempat suhu matahari terkonsentrasi. Tabung penerima panas akan memanaskan media berupa air atau cairan penghantar panas lainnya. Ada tiga media yang digunakan, yaitu pelumas sintetik, garam cair, dan uap bertekanan. Media akan mengalami proses pemanasan saat melalui tabung penerima panas. Media yang sudah panas digunakan menghasilkan uap. Uap ini akan digunakan menggerakkan turbin dan menghasilkan listrik. Turbin yang digunakan adalah turbin uap biasa.

B Linear Fresnel Reflector System
Pembangkit ini menempatkan penerima panas berada yang diletakkan diatas lensa cekung. Sementara sistem pembangkitan sama dengan parabolic trough system.

6 Sumber Panas Bagi Industri
Panas matahari juga dimanfaatkan oleh industri sebagai sumber panas. Tungku matahari yang dibangun di Odeillo, Prancis, adalah salah satu contohnya. Tungku ini berhasil menangkap panas matahari dengan suhu 3.500 derajat celsius. Sistem kerjanya mirip pembangkit menara, bedanya pada tungku ini konsentrasi dari cermin kaca datar (heliostats) diarahkan kepada cermin parabola yang berfungsi mengontrasikan panas sehingga panas yang dicapai lebih tinggi. Pada pusat konsentrasi panas ditempatkan penerima panas. 

Tingginya pencapaian panas dari tungku matahari ini, membuatnya bisa diaplikasikan untuk kebutuhan berbagai industri.

Dibawah ini kebutuhan panas dari Industri (dalam derajat celsius): 
1.000 = pembangkit menara generasi terbaru
1.400 = . menghasilkan hidrogen dari molekul metana
Hingga 2.500 = test materi untuk pemakaian ekstrim seperti PLTN atau pesawat ruang angkasa
Hingga 3.500 = memproduksi materi nano
Berdasarkan bahan bacaan diatas, panas matahari telah digunakan oleh dunia untuk berbagai kegiatan. Negara-negara maju telah melakukan uji coba seluruh penggunaan tersebut, sementara Indonesia baru sebagian saja. Kata kuncinya adalah penguasaan teknologi, kemauan pemerintah, dan partisipasi masyarakat. Sudah sepantasnya Indonesia memiliki kemauan yang tinggi untuk menggali dan memanfaatkan panas matahari untuk membangun bangsa.  atau energi surya sudah dimanfaatkan sejak awal peradaban manusia berlangsung di bumi. Manusia telah memanfaatkan panas dari energi matahari (energi surya) untuk menunjang kehidupan. Panas sinar matahari digunakan manusia untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari menghangatkan tubuh, menjemur pakaian, mengolah pertanian dan perikanan. Inilah salah satu anugerah Allah SWT kepada manusia. Energi matahari telah menjadi teman manusia hingga akhir zaman, insya Allah.

Setelah energi surya / energi matahari, mulailah manusia memanfaatkan energi biomassa seperti kayu bakar. Berikutnya, penggunaan energi lainnya mulai dilakukan seiring dengan perkembangan peradaban. Perkembangan teknologi dan kegigihan ilmuwan mendorong terjadinya penggunaan berbagai jenis energi, seperti energi angin, air, minyak, batubara, gas, nuklir dll. Manusia mulai mendiversifikasi pemenuhan kebutuhan energi. Dari berbagai energi ini, energi fosil (minyak, batubara, dan gas) dan nuklir kemudian menjadi energi utama dunia. 

Namun, penggunaan energi fosil dan nuklir telah menimbulkan konsekuensi serius bagi kehidupan manusia. Energi fosil telah memicu pemanasan global akibat polusi yang ditimbulkannnya. Sementara, energi nuklir yang sangat berbahaya juga telah mengalami beberapa kecelakaan yang telah berdampak sangat besar terhadap lingkungan dan manusia. Dunia kemudian lebih mengekplorasi dua energi terbarukan/ET (renewable energy/RE). Dari berbagai ET, energi matahari (energi surya) dan angin merupakan yang paling getol dilakukan. Dari dua energi ET ini, energi matahari (energi surya) memiliki potensi yang lebih baik. Sebab, energi matahari hampir menyinari seluruh permukaan bumi.

A. Penggunaan Energi Matahari Zaman Dahulu
Penulis yakin, sejak awal peradaban manusia sudah banyak yang memanfaatkan panas dari energi matahari untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, tidak ada catatan yang mengenangnya. Berdasarkan data dari internet (browsing), ada tiga penggunaan unik dari panas dari energi matahari yang bisa dipakai untuk renungan. Pertama, alat untuk membuat api di China. Berdasarkan dokumentasi Code Of Zhou Regulation,yaitu dinasti Zhou barat pada abad ke 11 SM sampai dengan 771 SM, Dimasti Zhou menemukan alat yang bisa menggunakan cahaya matahari untuk membuat api. Arkeolog menemukan alat pembuat api ini pada tahun 1995 di pemakaman dinasti Zhou yang terletak di provinsi sanxhi. Gambar bisa lihat di http://catatan-teknik.blogspot.com/2014/05/sejarah-teknologi-solar-thermal.html.

Kedua, senjata pembakar kapal tenaga matahari (energi matahari)yang dibuat oleh Archimedes. Ini merupakan cerita legenda Yunani. Legenda tersebut menyebutkan Archimedes berhasil menghancurkan armada kapal Roma yang berniat menyerang kota Syracuse, yang merupakan tempat tinggalnya. Archimedes menangkap energi matahari dan menjadikannya sebagai senjata dengan menggunakan cermin besar atau beberapa cermin. Ilustrasi bisa dilihat di http://www.unmuseum.org/burning_mirror.htm.

Namun, para ilmuwan dan peneliti masih belum bisa membuktikan kebenaran legenda ini. Beberapa percobaan telah dilakukan untuk membuktikannya. Hasilnya, keilmiahan metode yang digunakan Archimedes sulit diwujudkan. Bahkan, Mantan Presiden Amerika Serikat, Barrak Obama pernah menantang ilmuwan Negeri Paman Sam untuk mewujudkannya. Namun, kini belum tantangan dari Obama belum bisa diwujudkan oleh peneliti di Amerika. Secara prinsip, senjata ini sebenarnya mirip teknologi yang digunakan pada pembangkit menara (solar tower). Peneliti menyatakan, teknologi ini sulit digunakan untuk peperangan. Sebab, musuh (armada musuh) selalu bergerak dengan cepat. Menfokuskan energi termal matahari hingga bisa menghasilkan daya yang merusak (membakar kapal) sulit untuk diwujudkan. 

Ketiga, kompor (oven) matahari yang ditemukan oleh ilmuwan perancis-swis Horace Benedict de Saussure pada tahun 1767. Gambar dibawah menunjukkan rancangan Benedict de Saussure. Perangkat tersebut terdiri dari dua buah kotak kayu, kotak kecil yang berada didalam kotak yang besar. Di antara dua kotak tersebut diberi bahan insulasi. Di atas kotak kecil dipasang tiga lapis kaca dengan udara diantaranya. Dengan mangarahkan perangkat tersebut tegak lurus cahaya matahari, dalam beberapa jam, suhu di dalam kotak dapat mencapai di atas 100 oC. Perangkat ini pun diujicobakan di puncak gunung Cramont. Hasilnya, oven ini dapat memanaskan air hingga mencapai titik didihnya walaupun suhu udara sekitarnya sekitar 5-10 derajat selsius. Ilustrasi bisa dilihat di http://solarcooking.org/saussure.htm.

Meski telah lolos uji, tapi oven berbentuk kotak buatan de Saussure tidak populer. Sebab, proses pemanasannya memakan waktu yang sangat lama. Kekurangan lainnya, oven ini menghasikan suhu yang tidak cukup panas untuk memasak.

Produk massal pemanas dengan teknologi yang memanfaatkan energi matahari pertama kali dibuat oleh W Adam pada tahun 1870-an di Bombay, India. Adam menamakan produk ini sebagai oven solar (solar oven). Skema oven solar dalam mengonsentrasikan cahaya matahari ditunjukkan dalam gambar dibawah di link http://solarcooking.org.

Delapan buah cermin (A) membentuk reflektor octagon. Sinar matahari diarahkan ke dalam kotak (B) yang terbuat dari kayu yang diatasnya ditutup dengan kaca. Didalam kotak terdapat panci (C). Temperatur di dalam kotak B dapat mencapai suhu 200 derajat celsius.

B. Penggunaan Energi Matahari Zaman Sekarang
Saat ini, manusia telah menggunakan panas dari energi matahari untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Berikut berbagai pemanfaatan panas matahari (solar thermal):

1. Kompor matahari (surya)
Kompor matahari merupakan salah satu aplikasi yang memanfaatkan panas dari energi matahari untuk memenuhi kebutuhan memasak berbagai jenis makanan. Kompor matahari merupakan pemanas yang sangat ramah lingkungan, karena hanya membutuhkan sinar matahari sebagai sumber energinya. Kompor ini hemat biaya dan bebas polusi dibandingkan kompor minyak, batubara, dan kayu bakar. Penggunaan secara massal bisa mengurangi polusi udara dalam jumlah yang besar.

Kompor matahari secara umum terbagi dalam dua, yaitu kompor parabola dan kotak oven. Secara umum, kompor matahari memasak menggunakan tiga metode, yaitu pemanasan, pemanggangan, dan pasteurisasi. Kompor parabola memasak menggunakan metode pemanasan dan pasteurisasi, sementara kotak oven metodenya pemanggangan. 

Kompor parabola merupakan alat yang terbuat dari cermin (atau serupa cermin) yang fungsinya menfokuskan panas matahari pada satu titik di pusat parabola. Di titik inilah, panas dari energi matahari akan terkumpul. Panas yang terkumpul ini bisa menghasilkan suhu ratusan hingga 600 derajat celsius. Tinggi rendahnya suhu yang dicapai tergantung teknologi cermin parabola yang dipakai. 

Panas yang tinggi di pusat parabola inilah yang dimanfaatkan untuk memasak. Untuk pemanfaatan langsung, alat pemasak seperti panci atau wajan ditempatkan di pusat parabola. Sementara, penggunaan panas tidak langsung dilakukan dengan mengalirkan panas di pusat parabola dengan menggunakan media penghantar panas seperti logam, cairan, dan udara. 

Kompor parabola juga dapat digunakan untuk proses pasteurisasi makanan. Prosesnya, panas yang dihasilkan di pusat parabola digunakan untuk memproduksi uap dari proses pemanasan air. Uap inilah yang dimanfaatkan untuk proses pasteurisasi.

Sementara kompor oven merupakan alat berbentuk kotak tertutup. Penutup atas terbuat dari kaca bening yang memiliki dua fungsi, yaitu menyalurkan energi matahari ke dalam kotak dan menahan panas yang ada di dalam kotak agar tidak keluar. Di bagian dalam kotak ada plat kolektor panas sinar matahari yang biasanya terbuat dari logam. Panas dari logam inilah yang akan memanaskan oven. Suhu yang dihasilkan kompor oven lebih rendah dibandingkan kompor parabola, meski begitu pencapaiannya diatas 100 derajat celsiu sehingga cukup layak untuk proses pemanggangan masakan. 

Saat ini, sudah banyak negara di Afrika dan Asia yang menggunakan kompor matahari untuk memasak. India merupakan negara yang paling getol menggunakan energi bersih dan sangat murah ini. 

2. Pengering Matahari
Proses pengeringan dengan memanfaatkan sinar matahari sudah dipakai manusia sejak dahulu. Mulai dari menjemur pakaian, mengeringkan bahan-bahan yang basah, serta pengeringan produk pertanian dan perikanan. Sebagian besar pengeringan dilakukan secara tradisional, yaitu dengan cara menjemur di bawah terik matahari di udara terbuka. Namun, cara ini sangat bergantung kepada cuaca. Saat mendung proses pengeringan berlangsung lebih lama, sementara saat hujan pengeringan tidak bisa dilakukan. 

Kendala cuaca inilah yang membuat peneliti mengembangkan pengering matahari tertutup. Ada banyak teknologi pengering tertutup, dan yang kita akan bahas adalah pengering sederhana. Disebut sederhana karena teknologi dan kontruksinya sederhana, ukurannya kecil, tidak membutuhkan banyak bahan, pembuatanya tidak rumit, dan yang terpenting biayanya murah, he he he... Pengering ini bisa dibuat sendiri, meski perlu sedikit keahlian pertukangan. Gambar bisa dilihat di http://teknikcivil2.blogspot.com/2013/05/prisip-kerja-pengering-tenaga-surya.html.

Prinsip kerja pengering tenaga surya:
Sinar matahari masuk menembus tutup kaca kemudian akan memanasi plat kolektor yang ada pada dasar kotak pengering. Untuk pengering tenaga surya sederhana, ruang kolektor menjadi satu dengan kotak pengering. Karena diruangan tertutup, panasnya kolektor membuat suhu ruangan meningkat. Selain kolektor, pemanasan juga disumbang dari bahan pembuat kotak pengering yang biasanya terbuat dari seng. Sinar matahari ini juga akan mengenai langsung bahan yang di keringkan sekaligus menyebabkan udara di dalam kotak pengeringan tersebut menjadi sangat panas.

Sementara itu udara luar akan masuk di dalam kotak lewat bawah mengalir ke atas kemudian keluar lewat cerobong. Jadi bahan yang berada di kotak pengeringan tersebut akan di keringkan langsung oleh sinar matahari, serta udara panas di dalam kotak pengeringan tersebut, kemudian jika masih ada uap air akan terbawa oleh udara yang masuk dari bawah menuju ke atas dan keluar melalui cerobong.

Jika sinar matahari tertutup awan udara di dalam kotak pengering tersebut akan tetap panas. Sebab, kotak dibuat kedap dengan adanya isolator,meskipun sepanas sewaktu sinar matahari terik. Jika matahari bersinar kembali, suhu di dalam kotak pengering tersebut akan segera meninggi, tanpa memerlukan waktu yang lama. Adapun pengering tenaga surya yang lebih kompleks, kotak kolektor akan terpisah dengan ruangan pengering. Kolektor panas bisa terbuat dari plat datar, tabung, lensa cekung, dan parabola.

3. Pemanas Air (solar water heating system)
Selama 20 tahun terakhir orang Indonesia sudah sering melihat instalasi panel surya untuk pemanas air. Penggunaan pemanas air untuk perumahan hampir terjadi di seluruh dunia. Investasi memasang sistem pemanas air di rumah disebut-sebut sebagai investasi yang efektif karena bisa memanaskan air sepanjang tahun, tanpa terhalang musim. Energi yang dipakai adalah energi matahari yang gratis. Kota Barcelona di Spanyol merupakan salah satu kota percontohan yang menggunakan panas matahari untuk pemanas air secara massif. 

Sistem pemanas air tenaga matahari ini dibagi dalam dua, yaitu pasif dan aktif. 

3.1 Pemanas aktif
Ada dua tipe pada sistem pemanas air aktif, yaitu sistem sirkulasi langsung dan tak langsung. Pada sistem sirkulai langsung, air dipanaskan melalui sirkulasi langsung ke penangkap panas (panel surya). Sementara pada sistem tak langsung, panas yang terjadi pada panel surya diserap oleh cairan yang kemudian disirkulasikan ke sistem penyimpanan panas. Secara umum, sistem penyimpanan panas berupa sebuah tabung yang prinsip kerjanya seperti termos untuk menyimpan air panas. Dalam tabung terdapat penyalur panas (heat exchanger) yang memanaskan pipa saluran air rumah. Sistem aktif tak langsung inilah yang banyak digunakan oleh masyarakat.
3.2 Pemanas Pasif
Sistem pasif hampir serupa dengan aktif dengan biaya yang lebih murah. Namun, tingkat efisiensinya lebih rendah. Meski begitu, sistemnya diprediksi lebih tahan lama. Ada dua sitem dalam pasif ini. Pertama, sistem pasif penangkap panas terintegrasi (integral collector-storage passive stem). Sistem ini efektif untuk wilayah yang memiliki suhu dibawah nol. Aplikasi terbaik untuk kebutuhan air panas pada siang hingga sore hari. Kedua, sistem thermosyphon, yaitu aliran air yang memasuki sistem karena adanya perbedaan suhu air. Air panas akan naik dan air dingin akan berada dibawah. Panel surya sebagai pengumpul panas harus ditempatkan dibawah tangki air sehingga air panas akan naik ke tangki.

4. Penghangat dan Pendingin Ruangan
Panas matahari juga dapat digunakan untuk menghangatkan dan mendinginkan ruangan. Penghangat ruangan, dibutuhkan oleh masyarakat yang mengalami musim dingin di negara empat musim. Berikutnya, masyarakat di pegunungan yang suhunya dingin. Penghangat ruangan memanfaatkan panas yang diterima kolektor panas (panel surya) untuk menghangatkan ruangan. Sementara pendingin udara (air conditioning/AC) bekerja dengan cara mengalirkan panas dari sel surya ke alat yang disebut chiller. Pada chiller, terjadi proses evaporasi gas untuk menghasilkan suhu dingin.

Gambar dibawah menjelaskan penghangat dan penyejuk ruangan tenaga surya yang banyak digunakan oleh masyarakat di negara-negara 4 musim. Mereka membutuhkan kombinasi alat penghangat dan penyejuk udara karena mengealami musim dingin dan panas. Kalau di Indonesia mungkin hanya dibutuhkan alat penyejuk udara saja.

5. Pembangkit Listrik
Dunia telah membangun berbagai pembangkit Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Pembangkitan listrik dilakukan dengan panel surya penerima panas (solar thermal) dan panel fotovoltaik. Ada berbagai teknologi yang digunakan untuk membangkitkan listik menggunakan panel surya penerima panas, diantaranya, pembangkit menara (power tower) berbasis turbin uap, pembangkit menara berbasis turbin udara (solar updraft), pembangkit parabola, dan pembangkit lensa cekung.

Salah satu keunggulan PLTS dengan panel thermal adalah daya yang dihasilkan bisa sangat besar, mencapai ratusan MW. Salah satu power tower di Amerika bisa berkapasitas 700 MW. PLTS berbasis panel thermal juga dibangun dilahan yang tidak produktif atau yang sulit ditanami tanaman pangan dan industri karena lahannya yang ekstrim. Lahan yang cocok adalah sahara atau padang pasir yang banyak terdapat di Amerika, Australia, Afrika, dan Timur Tengah. Salah satu kendala ada pada teknologi berbasis turbin uap karena membutuhkan air yang cukup banyak untuk menghasilkan uap, padahal lokasi pembangunannya di tempat ekstrim yang mana air merupakan barang yang sangat berharga. Namun, kendala ini sekarang bisa diatasi dengan teknologi turbin berbasis gas dan aliran udara keatas (solar updraft).

5.1 Menara Pembangkit (power tower) Berbasis Turbin Uap
Pembangkit ini bekerja dengan cara memusatkan panas matahari menggunakan ratusan cermin datar otomatis yang bisa mengikuti pergerakan matahari yang disebut heliostats. Panas matahari dipantulkan heliostats ke alat penerima panas di puncak menara. Suhu yang terkonsentrasi di penerima panas mencapai 1,350 derajat celsius atau 2.500 fahrenheit. Berikutnya, panas ini kemudian dialirkan menggunakan media, diantaranya air, gas, atau garam cair ke ketel penghasil uap. Panas akan memanaskan ketel sehingga menghasilkan uap. Berikutnya, uap digunakan menggerakkan turbin dan menghasilkan listrik. Turbin uap yang digunakan adalah turbin uap seperti yang dijumpai di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) bebasis batubara sebagai energi primer.

Dari berbagai media penyimpan dan penghantar panas, garam cair adalah yang terbaik. Ada beberapa garam cair yang digunakan, diantaranya campuran sodium nitrate, potassium nitrate and calcium nitrate, lithium nitrate, dll. Garam cair juga dapat menyimpan panas dalam jangka waktu yang lama (bisa 1 minggu) menggunakan teknologi sistem penyimpanan garam cair (molten salt storage system). Dengan teknologi ini, power tower bisa menghasilkan listrik selama 24 jam, meski cuaca mendung dan malam hari. Tingkat efisiensi sistem ini mencapai 93-97%, sangat ekonomis dibandingkan pembangkit listrik berbahan bakar lainnya. Turbin listrik berkapasitas 100 MW membutuhkan tanki penyimpan panas setinggi 9,1 meter dan berdiameter 24 meter.

Proses pembangkitan listrik dimulai dari pemanasan garam cair di alat penerima panas di puncak menara. Garam meleleh pada suhu 131 derajat selsius, dan tetap dalam kondisi cair pada suhu 290 derajat celsius didalam tanki penyimpan garam cair dingin. Garam cair di tangki penyimpan dingin dialirkan ke penerima panas sehingga suhunya naik menjadi 565 derajat celsius. Lalu, garam cair dikirim ke tanki penyimpanan panas (prinsip kerjanya seperti termos) yang tertutup rapat dan dilengkapi lapisan penahan panas. Dari tangki ini, garam cair panas dialirkan ke generator uap untuk menghasilkan uap. Uap ini lalu digunakan menggerakkan turbin untuk menghasilkan listrik. Setelah dipakai menghasilkan uap, suhu garam cair turun menjadi sekitar 290 derajat celsius dan dialirkan ke tanki penyimpan dingin. Kemudian proses pemanasan dimulai lagi. Begitu seterusnya.

5.2 Menara Pembangkit (power tower) Berbasis Turbin Udara (Solar Updarft)
Power Tower berbasis turbin udara menggunakan turbin kaplan atau turbin yang biasa digunakan pada Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Karena menggunakan turbin berbasis udara, power tower jenis ini tidak membutuhkan air dan ini merupakan salah satu keunggulannya karena air merupakan SDA yang sulit didapat di lahan ekstrim.

Ada tiga bagian penting dari menara pembangkit ini, yaitu menara, kanopi, dan turbin. Menara, menara ini merupakan teknologi mesin thermal berbasis matahari. Menara berbentuk cerobong ini dapat mengubah panas menjadi energi mekanik. Proses naiknya udara panas ke puncak cerobong terjadi hal yang menjadi dasar pembangkitan listrik. Semakin tinggi menara cerobong akan semakin kuat aliran udara panasnya. Kanopi, berfungsi menangkap panas matahari dan mengalirkannya ke tempat penyimpanan panas yang dibangun dibawahnya. Penyimpanan panas menggunakan sistem penyimpanan panas bawah tanah. Jadi, kanopi harus terbuat dari alat penerima panas yang memiliki efisiensi tinggi. Turbin, berfungsi mengubah aliran udara panas menjadi listrik. Saat ini, perusahaan asal Australia EnviroMission mengumumkan akan membangun pembangkit jenis ini di California dengan kapasitas 200 MW.

5.3 Pembangkit Parabola
Memiliki kapasitas lebih kecil, sekitar 3-25 kilowat per satu parabola. Ada tiga bagian dari pembangkit ini, yaitu cermin parabola, penerima panas yang diletakkan puncak parabola, dan mesin stirling yang akan menghasilkan listrik. Cermin parabola akan memusatkan panas matahari ke penerima panas. Panas di penerima panas kemudian dialirkan dengan media ke mesin stirling. Untuk pembangkit parabola, media yang digunakan adalah hydrogen atau helium. Gas panas akan diubah menjadi listrik menggunakan mesin stirling. Mesin ini menggunakan gas panas untuk menggerakkan piston dan menciptakan tenaga mekanik.

5.4 Pembangkit Lensa Cekung
Pembangkit lensa cekung berpangku pada sistem konsentrasi linier (Linear concentrating solar power/CSP) untuk menghasilkan listrik. Ada dua teknologi dalam pembangkitan lensa cekung, yaitu sistem pengumpul parabola (parabolic trough system) dan sistem reflektor fresnel linier (linear fresnel reflector system). Untuk pembangkitan listrik menggunakan mesin uap biasa. Satu sistem besar bisa menghasilkan listrik 50-250 MW.

A Parabolic Trough System
Pada pembangkitan sistem ini, tabung penerima panas di pasang di bagian tengah lensa cekung tempat suhu matahari terkonsentrasi. Tabung penerima panas akan memanaskan media berupa air atau cairan penghantar panas lainnya. Ada tiga media yang digunakan, yaitu pelumas sintetik, garam cair, dan uap bertekanan. Media akan mengalami proses pemanasan saat melalui tabung penerima panas. Media yang sudah panas digunakan menghasilkan uap. Uap ini akan digunakan menggerakkan turbin dan menghasilkan listrik. Turbin yang digunakan adalah turbin uap biasa.

B Linear Fresnel Reflector System
Pembangkit ini menempatkan penerima panas berada yang diletakkan diatas lensa cekung. Sementara sistem pembangkitan sama dengan parabolic trough system.

6 Sumber Panas Bagi Industri
Panas matahari juga dimanfaatkan oleh industri sebagai sumber panas. Tungku matahari yang dibangun di Odeillo, Prancis, adalah salah satu contohnya. Tungku ini berhasil menangkap panas matahari dengan suhu 3.500 derajat celsius. Sistem kerjanya mirip pembangkit menara, bedanya pada tungku ini konsentrasi dari cermin kaca datar (heliostats) diarahkan kepada cermin parabola yang berfungsi mengontrasikan panas sehingga panas yang dicapai lebih tinggi. Pada pusat konsentrasi panas ditempatkan penerima panas.

Tingginya pencapaian panas dari tungku matahari ini, membuatnya bisa diaplikasikan untuk kebutuhan berbagai industri.

Dibawah ini kebutuhan panas dari Industri (dalam derajat celsius):
1.000 = pembangkit menara generasi terbaru
1.400 = . menghasilkan hidrogen dari molekul metana
Hingga 2.500 = test materi untuk pemakaian ekstrim seperti PLTN atau pesawat ruang angkasa
Hingga 3.500 = memproduksi materi nano

Berdasarkan bahan bacaan diatas, panas matahari telah digunakan oleh dunia untuk berbagai kegiatan. Negara-negara maju telah melakukan uji coba seluruh penggunaan tersebut, sementara Indonesia baru sebagian saja. Kata kuncinya adalah penguasaan teknologi, kemauan pemerintah, dan partisipasi masyarakat. Sudah sepantasnya Indonesia memiliki kemauan yang tinggi untuk menggali dan memanfaatkan panas matahari untuk membangun bangsa.